Tampilkan postingan dengan label Mensyukuri Nikmat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mensyukuri Nikmat. Tampilkan semua postingan

Mensyukuri Nikmat

Sesungguhnya, segala sesuatu di dunia ini hanyalah cobaan bagi seluruh umat manusia. Kesusahan dan kemudahan, kemiskinan dan kekayaan, harta dan ilmu, nikmat dan musibah, pada hakikatnya hanyalah ujian yang diberikan oleh Allah swt kepada para hamba-Nya. Barang siapa yang mampu bersyukur dan bersabar, maka merekalah yang niscaya termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Namun barang siapa yang kufur serta selalu mengikuti nafsu dan emosi semata, maka niscaya merekalah yang berada dalam kumpulan orang-orang yang merugi.

Nikmat dan musibah, kesusahan dan kesenangan, tidak lain adalah sama-sama ujian yang akan terus mewarnai kehidupan manusia. Tidak akan ada satu manusia pun di dunia ini yang terbebas dari yang namanya ujian. Karena, dengan ujian itulah maka manusia dapat menjadi makhluk yang sesuai dengan fitrahnya. Tanpa ujian, maka niscaya manusia akan terjerumus dalam liang kehinaan.

Seandainya nikmat itu bukanlah satu bentuk ujian, maka tidak akan ada manusia yang akan bersyukur kepada Allah swt danberbagi dengan sesamanya. Jika musibah bukanlah satu ujian, maka tidak akan ada manusia yang akan membantu manusia lainnya, tidak akan ada manusia yang akan bersabar atas musibah yang menimpanya, dan tidak akan ada manusia yang mau beribadah di tengah musibah yang menimpanya.

“Berbagai ujian” , itulah yang kelak akan menghantarkan manusia ke dalam naungan dan rahmat Allah swt. Namun demikian, “berbagai ujian” itu pulalah yang nanti juga banyak menghantarkan manusia ke dalam siksa api neraka. Di sinilah pentingnya memahami dan terus mengaplikasikan rasa syukur dan sabar atas segala apa yang diberikan dan diambil oleh Allah swt.

Nikmat adalah salah satu bentuk ujian yang akan membawa manusia memperoleh derajat yang lebih tinggi, di dunia dan di akhirat. Namun sangat disayangkan, ternyata niikmat juga merupakan salah satu bentuk ujian Allah swt bagi hamba-Nya yang justru banyak melalaikan mereka dari mengingat dan taat kepada Allah swt. Nikmat yang telah Allah swt tebarkan di muka bumi, justru telah membuat banyak manusia semakin menjauh dan kufur kepada Allah swt. Mereka lupa bahwa sesungguhnya segala bentuk nikmat yang telah mereka dapatkan adalah berasal dari Allah swt. Mereka menganggap, segala yang telah mereka miliki adalah hasil jerih payah mereka sendiri, semata karena kepandaian mereka sendiri. Dalam hal ini Allah swt telah berfirman di dalam Al Quran, yang artinya:

“Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata ” ini adalah hakku”. (QS. Fushshilat: 50).

“(Qarun) berkata: sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain kerana ilmu yang ada padaku”. (QS. Al Qashash: 78)

Betapa kedua ayat di atas menunjukkan bahwa nikmat Allah swt itu merupakan satu bentuk ujian yang jika kita tidak dapat menyikapinya dengan rasa sykur, justru akan menjebloskan kita ke dalam lubang kekufuran.

Ada sebuah riwayat yangmenceritakan tentang tiga orang dari bani Israil yang mendapatkan nikmat dan ujian dari Allah swt. Ketiga orang tersebut merupakan penderita penyakit kusta, orang buta, dan orang yang berkepala botak permanen. Berikut ini kami sajikan kisah ketiga orang tersebut yang terdapat di dalam salah satu hadits Nabi saw.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahawa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah swt ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikan ramai orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “unta atau sapi”, maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan: “Semoga Allah swt memberikan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian melaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?”. ia menjawab: “sapi atau unta”, maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan: ” Semoga Allah swt memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian melaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: ”Semoga Allah swt berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah swt penglihatannya, kemudian melaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “kambing”, maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi saw berikutnya:

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah swt, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab: “Hak hak (tanggunganku) masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah swt memberikan kepada anda harta kekayaan?”, dia malah menjawab:

“Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”, maka malaikat tadi berkata kepadanya: “jika anda berkata dusta niscaya Allah swt akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “jika anda berkata bohong niscaya Allah swt akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah swt kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil kerana Allah”. Maka malaikat tadi berkata: ” Peganglah harta kekayaan anda, kerana sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah swt, Allah swt telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Demikian Rasulullah saw mengisahkan di dalam haditsnya yang cukup panjang. Jika ketiga orang lelaki di atas mengerti bahwa hakikat dari nikmat adalah ujian dari Allah swt, tentu saja mereka akan bersyukur, terjaga dari kufur, serta terhindar dari membanggakan diri dan melupakan Allah swt sebagai Sang pemberi nikmat yang Maha Tunggal. Jika mereka memahami bahwa nikmat merupakan salah satu bentuk ujian Allah swt kepada hamba-Nya, yang akan dimintai pertanggung jawabannya,niscaya mereka akan bersyukur dan terhindar dari kikir dan bakhil, sehingga mereka semua akan mendapat ridho dari Allah swt.

Mensyukuri Nikmat

Demikian banyak ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun manusia yg bisa menghitung meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir utk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak ni’mat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan ni’mat-ni’mat tersebut atau ada tujuan lain?

Luas Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sungguh betapa besar dan banyak ni’mat yg telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu ni’mat kemudian beralih kepada ni’mat yg lain. Di mana kita terkadang tdk membayangkan sebelum akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak krn tdk bisa utk dibatasi atau dihitung dgn alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini tentu mengundang kita utk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. dlm realita kehidupan kita menemukan keadaan yg memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dlm keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncak adl menyamakan pemberi ni’mat dgn makhluk yg keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
“Sesungguh kesyirikan itu adl kedzaliman yg paling besar.”
Kendati demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu utk bertaubat. Oleh sebab itu tdk ada alasan bagi hamba ini untuk:
- Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn makhluk-Nya yg sangat butuh kepada-Nya.
- Menyombongkan diri serta angkuh dgn tdk mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tdk mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.
- Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
“Dan ni’mat apapun yg kalian dapatkan adl datang dari Allah.”
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
“Dan jika kalian menghitung ni’mat Allah niscaya kalian tdk akan sanggup.”

Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala utk Satu Tujuan yg Mulia
Dari sekian ni’mat yg telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dlm kalkulasi kita ni’mat yg telah kita syukuri dan dari sekian ni’mat yg telah kita pergunakan utk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yg baik mk pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala krn Dia telah memberimu kesempatan yg baik. Jika kita menemukan sebalik mk janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.1
Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yg ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut?
Ketahuilah bahwa keni’matan yg berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakan manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia utk sebuah kemuliaan bagi dan menjadikan segala ni’mat itu sebagai perantara utk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adl utk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sebagaimana hal ini disebutkan dlm firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.”
Bagi orang yg berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawaban yaitu utk beribadah kepada-Nya saja mk dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.
Sebagai bukti yaitu ada kematian setelah hidup ini dan ada kehidupan setelah kematian diiringi dgn persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah l. Itulah kehidupan yg hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:
1. Dunia bukan tujuan hidup.
2. Keni’matan yg ada pada bukan tujuan diciptakan manusia akan tetapi sebagai perantara utk suatu tujuan yg mulia.
3. Semangat beramal utk tujuan hidup yg hakiki dan kekal.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa ni’mat itu ada dua bentuk ni’mat yg menjadi tujuan dan ni’mat yg menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yg merupakan tujuan adl kebahagiaan akhirat dan nilai akan kembali kepada empat perkara.
Pertama: Kekekalan dan tdk ada kebinasaan setelah
Kedua: Kebahagian yg tdk ada duka setelahnya
Ketiga: Ilmu yg tdk ada kejahilan setelahnya
Keempat: Kaya yg tdk ada kefakiran setelahnya.
Semua ini merupakan kebahagiaan yg hakiki. Adapun bagian yg kedua adl sebagai perantara menuju kebahagiaan yg disebutkan dan ini ada empat perkara:
Pertama: Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yg baik.
Kedua: Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.
Ketiga: Keutamaan yg terkait dgn badan seperti harta kedudukan dan keluarga.
Keempat: Sebab-sebab yg menghimpun ni’mat-ni’mat tersebut dgn segala keutamaan seperti hidayah bimbingan kebaikan pertolongan dan semua ni’mat ini adl besar.”

Untaian Indah dari Ibnu Qudamah
“Ketahuilah bahwa segala yg dicari oleh tiap orang adl ni’mat. Akan tetapi keni’matan yg hakiki adl kebahagiaan di akhirat kelak dan segala ni’mat selain akan lenyap. Semua perkara yg disandarkan kepada kita ada empat macam:
Pertama: Sesuatu yg bermanfaat di dunia dan di akhirat seperti ilmu dan akhlak yg baik. Inilah keni’matan yg hakiki.
Kedua: Sesuatu yg memudaratkan di dunia dan di akhirat. Ini merupakan bala’ yg hakiki.
Ketiga: Bermanfaat di dunia akan tetapi memudaratkan di akhirat seperti berlezat-lezat dan mengikuti hawa nafsu. Ini sesungguh bala bagi orang yg berakal sekalipun orang jahil menganggap ni’mat. Seperti seseorang yg sedang lapar lalu menemukan madu yg bercampur racun. Bila tdk mengetahui dia menganggap sebuah ni’mat dan jika mengetahui dia menganggap sebagai malapetaka.
Keempat: Memudaratkan di dunia namun akan bermanfaat di akhirat sebagai ni’mat bagi orang yg berakal. Contoh obat bila dirasakan sangat pahit dan pada akhir akan menyembuhkan .
Seorang anak bila dipaksa utk meminum dia menyangka sebagai malapetaka dan orang yg berakal akan menganggap sebagai ni’mat. Demikian juga bila seorang anak butuh utk dibekam sang bapak berusaha menyuruh dan memerintahkan anak utk melakukannya. Namun sang anak tdk bisa melihat akibat di belakang yg akan muncul berupa kesembuhan.
sang ibu akan berusaha mencegah krn cinta yg tinggi kepada anak tersebut krn sang ibu tdk tahu tentang maslahat yg akan muncul dari pengobatan tersebut.
Sang anak menuruti apa kata ibunya. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan sehingga ia lbh menuruti ibu daripada bapaknya. Bersamaan dgn itu sang anak menganggap bapak sebagai musuh. Jika sang anak berakal niscaya dia akan menyimpulkan bahwa sang ibu merupakan musuh sesungguh dlm wujud teman dekat. Karena larangan sang ibu utk berbekam akan menggiring kepada penyakit yg lbh besar dibandingkan sakit krn berbekam.
Karena itu teman yg jahil lbh berbahaya dari seorang musuh yg berakal. Dan tiap orang menjadi teman diri sendiri akan tetapi nafsu merupakan teman yg jahil. Nafsu akan berbuat pada diri apa yg tdk diperbuat oleh musuh.”

Syukur dlm Tinjauan Bahasa dan Agama
Syukur secara bahasa adl nampak bekas makan pada badan binatang dgn jelas. Binatang yg syakur artinya: Apabila nampak pada kegemukan krn makan melebihi takarannya.
Adapun dlm tinjauan agama syukur adalah: Nampak pengaruh ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seorang hamba melalui lisan dgn cara memuji dan mengakuinya; melalui hati dgn cara meyakini dan cinta; serta melalui anggota badan dgn penuh ketundukan dan ketaatan.
Ada juga yg mendefinisikan syukur dgn makna lain seperti:
1. Mengakui ni’mat yg diberikan dgn penuh ketundukan.
2. Memuji yg memberi ni’mat atas ni’mat yg diberikannya.
3. Cinta hati kepada yg memberi ni’mat dan anggota badan dgn ketaatan serta lisan dgn cara memuji dan menyanjungnya.
4. Menyaksikan keni’matan dan menjaga keharaman.
5. Mengetahui kelemahan diri dari bersyukur.
6. Menyandarkan ni’mat tersebut kepada pemberi dgn ketenangan.
7. Engkau melihat dirimu orang yg tdk pantas utk mendapatkan ni’mat.
8. Mengikat ni’mat yg ada dan mencari ni’mat yg tdk ada.
Masih banyak lagi definisi para ulama tentang syukur akan tetapi semua kembali kepada penjelasan Ibnul Qayyim sebagaimana disebutkan di atas.
Yang jelas syukur adl sebuah istilah yg digunakan pada pengakuan/ pengetahuan akan sebuah ni’mat. Karena mengetahui ni’mat merupakan jalan utk mengetahui Dzat yg memberi ni’mat. Oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan Islam dan iman di dlm Al-Qur`an dgn syukur. Dari sini diketahui bahwa mengetahui sebuah ni’mat merupakan rukun dari rukun-rukun syukur.
Apabila seorang hamba mengetahui sebuah ni’mat mk dia akan mengetahui yg memberi ni’mat. Ketika seseorang mengetahui yg memberi ni’mat tentu dia akan mencintai-Nya dan terdorong utk bersungguh-sungguh mensyukuri ni’mat-Nya.
Syukur Tidak Sempurna Melainkan dgn Mengetahui Apa yg Dicintai Allah l
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa syukur dan tdk kufur tdk akan sempurna melainkan dgn mengetahui segala apa yg dicintai oleh Allah l. Sebab makna syukur adl mempergunakan segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada apa yg dicintai-Nya dan kufur ni’mat adl sebaliknya. Bisa juga dgn tdk memanfaatkan ni’mat tersebut atau mempergunakan pada apa yg dimurkai-Nya.”

Makna Syukur
Syukur memiliki tiga makna.
Pertama: Mengetahui adl sebuah ni’mat. Arti dia menghadirkan dlm benak mempersaksikan dan memilahnya. Hal ini akan bisa terwujud dlm benak sebagaimana terwujud dlm kenyataan. Sebab banyak orang yg jika engkau berbuat baik kepada namun dia tdk mengetahui . Gambaran ini bukan termasuk dari syukur.
Kedua: Menerima ni’mat tersebut dgn menampakkan butuh kepadanya. Dan bahwa sampai ni’mat tersebut kepada bukan sebagai satu keharusan hak bagi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tanpa membeli dgn harga. Bahkan dia melihat diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti seorang tamu yg tdk diundang.
Ketiga: Memuji yg memberi ni’mat. dlm hal ini ada dua bentuk yaitu umum dan khusus. Pujian yg bersifat umum adl menyifati pemberi ni’mat dgn sifat dermawan kebaikan luas pemberian dan sebagainya. Pujian yg bersifat khusus adl menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan bahwa ni’mat tersebut sampai kepada dia krn sebab Sang Pemberi tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang ni’mat Rabbmu mk ceritakanlah.” (Madarijus Salikin 2/247-248)

Menceritakan Sebuah Nikmat Termasuk Syukur
Menceritakan sebuah ni’mat yg dia dapatkan kepada orang lain termasuk dlm kategori syukur. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ صَنَعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفًا فَلْيَجْزِ بِهِ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِي بِهِ فَلْيُثْنِ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَ كَانَ كَلاَبِسِ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Barangsiapa yg diberikan kebaikan kepada hendaklah dia membalas dan jika dia tdk mendapatkan sesuatu utk membalas hendaklah dia memujinya. Karena jika dia memuji sungguh dia telah berterima kasih dan jika dia menyembunyikan sungguh dia telah kufur. Dan barangsiapa yg berhias dgn sesuatu yg dia tdk diberi sama hal dgn orang yg memakai dua ­baju kedustaan.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan adapun tentang ni’mat Rabbmu mk ceritakanlah.”
Menceritakan ni’mat yg diperintahkan di dlm ayat ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.
Pertama: Menceritakan ni’mat tersebut dan memberitahukan kepada orang lain seperti dgn ucapan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku ni’mat demikian dan demikian.”
Kedua: Menceritakan ni’mat yg dimaksud di dlm ayat ini adl berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan risalah-Nya dan mengajarkan umat.
Dari kedua pendapat tersebut Ibnul Qayyim rahimahullahu dlm Madarijus Salikin mentarjih dgn perkataan beliau: “Yang benar ayat ini mencakup kedua makna tersebut. Karena masing-masing adl ni’mat yg kita diperintahkan utk mensyukuri menceritakan dan menampakkan sebagai wujud kesyukuran.”
Beliau berkata: “Dalam sebuah atsar yg lain dan marfu’ disebutkan:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
“Barangsiapa tdk mensyukuri yg sedikit mk dia tdk akan mensyukuri atas yg banyak dan barangsiapa yg tdk berterima kasih kepada manusia mk dia tdk bersyukur kepada Allah. Menceritakan sebuah ni’mat kepada orang lain termasuk dari syukur dan meninggalkan adl kufur bersatu adl rahmat dan bercerai berai adl azab.” (Madarijus Salikin 2/248)

Dengan Apa Seorang Hamba Bersyukur?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Syukur bisa dilakukan dgn hati lisan dan anggota badan. Adapun dgn hati adl berniat utk melakukan kebaikan dan menyembunyikan pada khayalak ramai. Adapun dgn lisan adl menampakkan kesyukuran itu dgn memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Arti menampakkan keridhaan kepada Allah k. Dan hal ini sangat dituntut sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
التَّحَدُّثُ بِالنِّعَمِ شُكْرٌ وَتَرْكُهُ كُفْرٌ
‘Menceritakan ni’mat itu adl wujud kesyukuran dan meninggalkan adl wujud kekufuran.’
Adapun dgn anggota badan adl mempergunakan ni’mat-ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dlm ketaatan kepada-Nya dan menjaga diri dari bermaksiat dengannya. Termasuk kesyukuran terhadap ni’mat kedua mata adl dgn cara menutup tiap aib yg dilihat pada seorang muslim. Dan termasuk kesyukuran atas ni’mat kedua telinga adl menutup tiap aib yg didengar. Penampilan seperti ini termasuk wujud kesyukuran terhadap anggota badan.”
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dgn tunduk dan kepasrahan oleh lisan dgn mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dgn ketaatan dan penerimaan.”

Derajat Syukur
Syukur memiliki tiga tingkatan:
Pertama: Bersyukur krn mendapatkan apa yg disukai.
Tingkat syukur ini bisa juga dilakukan orang Islam dan non Islam seperti Yahudi dan Nasrani bahkan Majusi. Namun Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Jika engkau mengetahui hakikat syukur dan di antara hakikat syukur adl menjadikan ni’mat tersebut membantu dlm ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencari ridha-Nya niscaya engkau akan mengetahui bahwa kaum musliminlah yg pantas menyandang derajat syukur ini.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah menulis surat kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Sesungguh tingkatan kewajiban yg paling kecil atas orang yg diberi ni’mat adl tdk menjadikan ni’mat tersebut sebagai jembatan utk bermaksiat kepada-Nya’.”
Kedua: Mensyukuri sesuatu yg tdk disukai. Orang yg melakukan jenis syukur ini adl orang yg sikap sama dlm semua keadaan sebagai bukti keridhaannya.
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Bersyukur atas sesuatu yg tdk disukai lbh berat dan lbh sulit dibandingkan mensyukuri yg disenangi. Oleh sebab itulah syukur yg kedua ini di atas jenis syukur yg pertama. Syukur jenis kedua ini tdk dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua jenis orang:
Seseorang yg semua keadaan sama. Arti sikap sama terhadap yg disukai dan tdk disukai dan dia bersyukur atas semua sebagai bukti keridhaan diri terhadap apa yg terjadi. Ini merupakan kedudukan ridha.
Seseorang yg bisa membedakan keadaannya. Dia tdk menyukai sesuatu yg tdk menyenangkan dan tdk ridha bila menimpanya. Namun bila sesuatu yg tdk menyenangkan menimpa dia tetap mensyukurinya. Kesyukuran sebagai pemadam kemarahan sebagai penutup dari berkeluh kesah dan demi menjaga adab serta menempuh jalan ilmu. Karena sesungguh adab dan ilmu akan membimbing seseorang utk bersyukur di waktu senang maupun susah.
Tentu yg pertama lbh tinggi dari yg kedua.
Ketiga: Seseorang seolah-olah tdk menyaksikan kecuali Yang memberi keni’matan. Arti bila dia melihat yg memberi keni’matan dlm rangka ibadah dia akan menganggap besar ni’mat tersebut. Dan bila dia menyaksikan yg memberi keni’matan krn rasa cinta niscaya semua yg berat akan terasa manis baginya.

Manusia dan Syukur
Kita telah mengetahui bahwa syukur merupakan salah satu sifat yg terpuji dan sifat yg dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi tdk semua orang bisa mendapatkannya. Arti ada yg diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ada pula yg tidak.
Manusia dan syukur terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama: Orang yg mensyukuri ni’mat yg diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua: Orang yg menentang ni’mat yg diberikan alias kufur ni’mat.
Ketiga: Orang yg berpura-pura syukur padahal dia bukan orang yg bersyukur. Orang yg seperti ini dimisalkan dgn orang yg berhias dgn sesuatu yg tdk dia tdk miliki.

Dalil-dalil tentang Syukur
وَاشْكُرُوا لِلهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
“Bersyukurlah kalian kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah.”
فَاذْكُرُوْنِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dan bersyukurlah kalian kepada-Ku dan jangan kalian kufur.”
وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
“Dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya dan kepada-Nya kalian dikembalikan.”
وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan membalas orang2 yg bersyukur.”

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُوْمُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا؟
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau lalu ‘Aisyah berkata: ‘Ya Rasulullah kenapa engkau melakukan yg demikian padahal Allah telah mengampuni dosamu yg telah lewat dan akan datang?’ Beliau menjawab: ‘Apakah aku tdk suka menjadi hamba yg bersyukur?’”
Masih banyak dalil lain yg menjelaskan tentang keutamaan syukur dan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga apa yg dibawakan di sini mewakili yg tdk disebutkan.

Ancaman bagi orang2 yg Tidak Bersyukur
Yang tdk bersyukur lbh banyak dari yg bersyukur. Hal ini tdk bisa dipungkiri oleh orang yg berakal bersih. Sebagaimana orang yg ingkar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lbh banyak dari yg beriman. Demikianlah keterangan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit dari hamba-hambaKu yg bersyukur.”
Sebuah peringatan tentu akan bermanfaat bagi orang yg beriman. Di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan dari kufur ni’mat setelah memerintahkan utk bersyukur dan menjelaskan keutamaan yg akan di dapati sebagaimana penjelasan Al-Imam As-Sa’di rahimahullahu dlm tafsir beliau: “Jika seseorang bersyukur niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengabadikan ni’mat yg dia berada pada dan menambah dgn ni’mat yg lain.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ
“Dan Rabb kalian telah mengumumkan jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah dan jika kalian mengkufuri sungguh azab-Ku sangat pedih.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan: “Jika kalian mengkufuri ni’mat menutup-nutupi dan menentang mk yaitu dgn dicabut ni’mat tersebut dan siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpa dgn sebab kekufurannya. Dan disebutkan dlm sebuah hadits: ‘Sesungguh seseorang diharamkan utk mendapatkan rizki krn dosa yg diperbuatnya’.”

Syukur dan Sabar
Kita akan bertanya: “Jika engkau ditimpa sebuah musibah lalu engkau mensyukuri mk tentu pada sikap kesyukuranmu terdapat sifat sabar dan sifat ridha terhadap musibah yg menimpa dirimu. Dan kita mengetahui bahwa ridha merupakan bagian dari kesabaran. Sementara syukur merupakan buah dari sifat ridha.”
Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur termasuk kedudukan yg paling tinggi dan lbh tinggi -bahkan jauh libih tinggi- daripada kedudukan ridha. Di mana sifat ridha masuk dlm syukur krn mustahil syukur ada tanpa ridha.”

Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bersyukur?
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Makhluk ini tdk mau mensyukuri ni’mat krn pada ada dua yaitu kejahilan dan kelalaian. Kedua sifat ini menghalangi mereka utk mengetahui ni’mat. Karena tdk tergambar bahwa seseorang akan bisa bersyukur tanpa mengetahui ni’mat . Jika pun mereka mengetahui ni’mat mereka menyangka bahwa bersyukur itu hanya sebatas mengucapkan alhamdulillah atau syukrullah dgn lisan. Mereka tdk mengetahui bahwa makna syukur adl mempergunakan ni’mat pada jalan ketaatan kepada Allah l.”
Kesimpulan ucapan Ibnu Qudamah rahimahullahu adl bahwa manusia banyak tdk bersyukur krn ada dua perkara yg melandasi yaitu kejahilan dan kelalaian.

Mengobati Kelalaian dari Bersyukur
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Hati yg hidup akan menggali segala macam ni’mat diberikan. Adapun hati yg jahil tdk akan menganggap sebuah ni’mat sebagai ni’mat kecuali setelah bala’ menimpanya. Cara hendaklah dia terus memandang kepada yg lbh rendah dari dan berusaha berbuat apa yg telah dilakukan oleh orang2 terdahulu. Mendatangi tempat orang yg sedang sakit dan melihat berbagai macam ujian yg sedang menimpa mereka kemudian berpikir tentang ni’mat sehat dan keselamatan. Menyaksikan jenazah orang yg terbunuh dipotong tangan mereka kaki-kaki mereka dan diazab lalu dia bersyukur atas keselamatan diri dari berbagai azab.”
 

Panji Rasulullah Copyright © 2008-2009 | Edited By : Copyright Tanpa Nama