Tampilkan postingan dengan label Mengenal Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Allah. Tampilkan semua postingan

Kenallah dirimu , engkau pasti mengenal Allah

Ini berarti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya, manusia itu bisa sampai mengenal Allah. Tetapi oleh karena banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.

Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pegenalan ini. Sala satunya sangat sulit dan sukar difaham oleh orang-orang biasa, maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini. Yang satu cara lagi adalah seperti berikut: apabila seseorang memikirkan dirinya, dia tahu bahwa ada satu ketika ia tidak berwujud, seperti tersebut dalam Al-Quran: "Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (QS. 76:1) Selanjutnya ia juga tahu bahwa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal, pendengar, penglihatan, kepala, tangan, kaki dan sebagainya, dari sini teranglah bahwa walau bagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan, tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri meeskipun hanya sehelai rambut.

Tambahan pula jika ia setitik air, alangkah lemahnya ia? Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu, didapatinya dalam dirinya kekuasaan, kebijaksanaan dan cinta Allah terbayang dalam bentuk yang kecil. Jika semua pendeta dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati, niscaya mereka tidak dapat mengubah dan membaiki bentuk walau satu bagian dari badannya itu.

Misalnya, dalam penggunaan gigi depan dan gigi samping untuk menghancurkan makanan, penggunaan lidah, air liur, tengkuk, kerongkong, kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu juga, fikirkan pula tangan dan jari kita. Jari ada lima dan tidak pula sama panjang, empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian, dan ibu jari hanya ada dua persendian, dan lihat pula bagaimana ia bisa digunakan untuk memegang, mencincang, memukul dan sebagainya. Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian, meski hendak menambah atau mengurangkan jumlah jari itu dan susunannya .

Lihat pula makanan, tempat tinggal kita dan sebagainya. Semuanya cukup dikurniakan oleh Allah yang maha kaya. Tahulah kita bahwa rahmat atau Kasih Sayang Allah itu sama dengan Kekuasaan dan KebijaksanaaNya, seperti firman Allah Subhanahuwa Taala.

"RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu"

Dan sabda Nabi SAW.,
"Allah itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya"

Demikianlah, dari makhluk yang dijadikanNya, manusia bisa tahu tentang wujud Allah; dari keajaiban badannya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Allah; dan dari kurnia rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Allah kepada hambaNya. Dengan cara ini, mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Allah Subhanawa Taala.

Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Allah. Begitu juga cara wujud ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang wujud Allah, yaitu Allah dan ruh itu tidak kelihatan, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan, tidak tunduk kepada ruang dan waktu, diluar kemampuan kuantitas (jumlah) dan kualitas, dan tidak bisa diperikan dengan bentuk, warna atau ukuran. Orang merasa sulit hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini karena ia tidak termasuk dalam bidang kualitas dan kuantitas, dan sebagainya, tetapi coba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah, suka, cinta dan sebagainya. Semua itu adalah konsep fikiran atau tanggapan khayalan, dan tidak dapat dikenali oleh indera. kualiti, kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep indera(tanggapan pancaindera). Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Allah itu bukanlah dengan inderanya.

Allah itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tunduk kepada ruang dan waktu, kuantiti dan kualiti, dan menguasai segala makhluknya. Begitu juga ruh itu memerintah badan dan anggotanya. Ia tidak bisa dilihat, tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tunduk kepada tempat tertentu. karena bagaimana mungkin sesuatu yang tidak bisa dibagi-bagikan itu diletak kedalam sesuatu yang bisa dibagi atau dipecah? Dari keterangan yang kita baca diatas itu, dapatilah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.: "Allah jadikan manusia menurut rupanya".

Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Allah hasil dari perhatian dan tafakur kita tentang zat dan sifat Ruh, maka sampailah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Allah Taala dan bagaimana ia mewakilkan Kuasa-Kuasanya kepada malaikat-malaikat, dan lain-lain, dengan cara memerhati dan bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.

Kita ambil satu contoh: Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Allah. Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya. Kemudian dibawa ke otak oleh daya ruhani.. Maka bentuk perkataan "Allah" itu terdapat dalam khayalan atau fikiran otak itu. Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf, lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena. Maka tertulislah nama "Allah" atas kertas, serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.

Begitu juga apabila Allah Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu perkara, Ia mula-mulanya nampak dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai "Al-'Arasy". Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar "Al-Kursi". Kemudian bentuknya nampak dalam "Al-Luh Al-Mahfuz". Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga "Malaikat" terbentuklah perkara itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, pokok-pokok dan binatang; yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Allah. Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis, yang menggambarkan keinginan dan kemahuan yang terbit dan terkandung dalam hati; dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.

Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri. Allah telah memberi kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil. Dan ini adalah satu salinan kecil Diri(Zat)Nya dan KerajaanNya. Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya; ketua segala Malaikat itu ialah hatinya; Kursi itu otaknya; Luh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau fikirannya. Ruh itu tidak bertempat dan tidak bisa dibagikan dan ia memerintah badanya; sebagaimana Allah memerintah Alam Semester Raya ini. Pendeknya, tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan lengah dan lalai mengatur kerajaan itu.

Berkenaan dengan mengenal ciptaan Allah Subhanahuwa Taala, ada banyak derajat pengetahuan. Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memerhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu saja.

Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggerakkan pena itu, yaitu ia tahu bahwa unsur-unsur itu adalah daya bintang-bintang, tetapi dia tidak tahu bahwa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.

Oleh karena berbeda-bedanya derajat pandangan manusia itu, maka tentulah timbul perbedaan hasil atau kesan. Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari fenomena alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja. Undang-undang alam nyata itu (Fenomena) itu mestilah tetap. Jika tidak, tidak adalah sains. Walau bagaimanapun, adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.

Karena ada perebedaan ini, maka pertengkaran akan terus terjadi. Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah. Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang. Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras. Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas. Tiap-tiap seorang mengganggap bagian-bagian itu sebagai keseluruhan. Dengan itu, ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum. Kesalahan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang, bulan dan matahari untuk disembah. Lama kelamaan beliau sadar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu, lalu bisa berkata, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit. Misalnya; jika seseorang itu tidak lagi cenderung kepada keduniaan, segala keindahan tidak lagi dipedulikannya, dan tidak peduli apa pun, maka doktor mengatakan, "Ini adalah penyakit gundah gulana, dan ia perlu obat ini a"

Ahli fisika akan berkata "Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab."

Ahli nujum akan mengatakan bahwa itu adalah pengaruh bintang-bintang.

"Hanya itulah kebijaksanaanya mereka." Kata Al-Quran, tidaklah mereka tahu bahwa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Allah Subahana Wataala memberi kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur, mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ia berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya. Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham; dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.

Doktor, Ahli Fizik dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Tetapi mereka tidak tahu bahwa penyakit itu bisa dikatakan sebagai "Tali Cinta", yang dengan tali itu Allah menarik AuliaNya kepadaNya. Berkenaan ini Allah ada berfirman yang bermaksud;

"Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku".

Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalaman yang dengannya manusia itu bisa mencapai pengetahuan tentang Allah; sebagaimana firman Allah melalui mulut Rasul-rasulNya;

"Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan disertakan kepada orang-orang pilihanKu".

Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu, dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman yaitu;

"Maha Suci Allah" (SubhanaLlah)
"Puji-pujian Bagi Allah (Alhamdulillah)
"Tiada Tuhan Melainkan Allah (La ilaha iLlaLlah)
"Allah Maha Besar" (Allahu Akbar).

Berkenaan dengan "Allahu Akbar" itu bukanlah bermaksud Allah itu lebih besar (secara fisik) dari makhluk, karena makhluk itu adalah penampakan-Nya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari. Tidaklah bisa dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya. Ia bermaksud yaitu Kebesaran Allah itu tidak dapat disukat dan diukur dan melampaui jangkauan kesedaran; dan kita hanya bisa membentuk gambaran yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.

Jika seorang kanak-kanak bertanya kepada kita untuk menerangkan enaknya mendapat pangkat yang tinggi, kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan kanak-kanak itu tatkala sedang bermain bola, meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung, kecuali hanya kedua-dua perkara itu termasuk dalam jenis kesenangan. Oleh yang demikian, kata-kata "Allahu Akbar" itu berarti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalan dan pengetahuan kita. Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah itu, bukan dengan pikiran saja tetapi adalah disertai oleh ibadat dan pengabadian kita.

Apabila seorang itu mati, maka ia berhubungan dengan Allah saja. Jika kita hidup dengan orang lain, kebahagiaan kita bergantung kepada derajat kemesraan kita terhadap orang itu. Cinta itu adalah benih kebahagiaan, dan Cinta kepada Allah itu dituju dan dibangun melalui ibadat. Ibadat dan sentiasa mengenang Allah itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak badan. Ini bukanlah berarti semua kehendak badan itu dihapuskan; karena itu akan menyebabkan punahnya manusia. Apa yang diperlukan ialah membatasi kehendak-kehendak badan itu. Oleh karena seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang batas itu, maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam perkara ini, dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyi Ilahi menentukan batas yang harus diperhatikan dalam hal ini. Siapa yang melanggar batas berarti Menzholimi dirinya sendiri"(Al-Baqarah; 231).

Walaupun Al-Qur'an telah memberi keterangan yang nyata, masih ada juga orang yang melanggar batas karena kejahilan mereka tentang Allah dan kejahilan ini adalah karena beberapa sebab;

Pertama; ada golongan manusia yang terus mencari Allah melalui pikiran, lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan. Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya, dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau ada begitu saja.Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka. Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizika dan Ahli Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.

Ada pula setengah orang karena kejahilan tentang keadaan sebenarnya Ruh itu. Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadili di sana. Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu saja.

Ada juga orang yang percaya dengan Allah dan Hari Akhirat, tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri;

"Allah itu Maha Agung dan tidak ada sangkut-paut dengan kita, walaupin kita sembah Dia atau tidak; tidak menjadi apa-apa kepadaNya".

Fikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan ubat, tetapi ia berkata; "Apa untung atau ruginya doktor itu jika aku makan obat atau tidak makan obat?". Memang tidak terjadi apa-apa kepada doktor itu tetapi orang itulah yang akan bertambah sakit karenabodohnya. Badan yang sakit berakhir dengan mati. Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan siksaan di akhirat nanti, seperti firman Allah Taala dalam Al-Qur'an yang bermaksud;

"Hanya mereka yang kembali kepada Allah dengan hati yang Salim itulah yang akan terselamat".

Jenis orang yang tidak beriman yang keempat ialah mereka yang berkata;

"Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah, jangan menurut nafsu, jangan bersikap munafik. Ini tidak mungkin karena sifat-sifat ini memang telahada semula jadi pada kita. Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih".

Mereka ini sebenarnya bodoh. Mereka jahil dengan hukum Syariat. Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu, tetapi hendaklah dikontrol supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan. Supaya terhindar dari dosa besar, dan kita bisa memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil. Sedangkan Rasulullah ada bersabda;

"Saya ini manusia juga seperti kamu, dan marah juga seperti orang lain".

Firman Allah dalam Al-Qur'an;

"Allah kasih kepada mereka yang menahan kemarahan mereka".(Al-Imran:146)

Ini berarti bukan mereka yang tidak ada perasaan marah.

Golongan yang kelima ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuahn saja tetapi menepikan KeadilanNya, lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri;

"Kami buat apa saja karena Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang".

Mereka tidak ingat meskipun Allah itu Pengasih dan Penyayang, namun beribu-ribu manusia mati kelaparan dan karena penyakit. Meraka tahu, barang siapa hendak hidup atau hendak kaya, atau hendak belajar, mestilah jangan hanya berkata; "Allah itu Kasih Sayang". tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh. Meskipun ada firman Allah dalam Al-Qur'an; "Tiap-tiap makhluk yang hidup itu Allah beri ia rezeki"(Surah Hud:06); tetapi hendaklah juga ingat Allah juga berfirman; "Manusia tidak akan mendapat apa-apa kecuali dengan berusaha". Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adalah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka berkata di mulut saja, bukan di hati.

Golongan keenam pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi. Tetapi kalau anda layani mereka dengan kasar dan tidak hormat, anda akan dengar mereka marah dan bertahun-tahun mengatai anda. Dan jika anda ambil makanan sesuap saja yang patut, seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka. Kalau pun mereka itu telah dapat menakluki hawa nafsu mereka, mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi, karena Nabi Muhammad SAW. sendiri, manusia yang paling tinggi darajatnya, sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Allah. Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga pada perkara- perkara yang halal pun mereka menghidarkan diri .

Diriwayatkan, suatu hari Nabi Muhammad SAW. telah diberi sebiji Tamar. Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti Tamar itu didapati secara halal atau tidak. Tetapi mereka menelan arak berbotol-botol banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya menggeletar semasa menulis ini). Pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak. Sesungguhnya mereka telah diseret dan disesatkan oleh Iblis.

Aulia Allah yang sebenarnya mengetahui bahwa orang yang tidak menundukkan hawa nafsunya tidak patut dipanggil "orang" dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati, tidak mahu melanggar Syariat.. Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena, tetapi adalah sewajarnya dengan pedang.

Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan keheranan atau tidak sadar, tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka heirankan itu, mereka tidak tahu. Sepatutnya mereka disuruh menungkan keheranan sebanyak-banyak yang mereka suka, tetapi di samping itu hendaklah ingat bahwa Allah Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Allah saja

Mengenal Allah

Manusia makhluk Allah yang mulia, diciptakan dan diberi ilmu pengetahuan sehingga mengalahkan sekalian makhluk yang ada, lalu dengannya Allah memerintahkan para Malaikat bersujud kepada Adam, malaikatpun mentaati perintah tersebut.
Demikianlah pentingnya ilmu tersebut, para malaikat dan Iblis diperintahkan bersujud kepada Adam, Malaikat bersujud dan Iblis enggan, karenanyalah Allah mengutuknya dan menjadikannya kafir, Allah berfirman mengisahkan hal itu yang artinya :
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqarah 2 : 34).
Melihat hal ini, tentunya kita semua harus bersyukur kepada Allah dan tidak ingin merugi, seperti Iblis tersebut. Untuk itu Allah perintahkan kita untuk berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar, sebagai jalan menuju kebahagian dan keuntungan.
Allah berfirman yang artinya :
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. al-Ashr 103:1-3)
Berilmu dengan mengenal Allah, Rasul dan AgamaNya, tiga hal yang akan dipertanyakan didalam kubur nanti, sebagaimana sabda Nabi :
Dari al-Baroo' bin 'Azib dari Nabi beliau bersabda: Allah menetapkan orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh, berkata:"diturunkan ayat ini pada adzab kubur, lalu ditanya sang mayit: siapa robbmu? Lalu dia menjawab:'Robbku Allah, Nabiku Muhammad " (HR muslim)
Oleh karena itu, kenalilah Allah dengan benar! agar selamat dunia dan akherat.
Mengenal Allah ta'ala, perkara yang sangat penting dan mendesak, hal ini merupakan kebutuhan yang sangat primer, lebih mendesak daripada kebutuhan terhadap air, matahari dan udara, karena kita semua tidak akan bisa lepas dari Allah, walaupun sedetik saja. Sedangkan kebutuhan terhadap air, matahari dan udara dapat ditunda barang sejenak.
Akan tetapi dewasa ini, muncul orang yang mengaku muslim, tetapi tidak mengenal Allah. Ditanya tentang Allah dan sifat-sifatnya, dan menjawab: "tidak tahu" atau sok tahu dan salah jawabannya!! Heran memang!? Tapi demikianlah kenyataannya, lalu…kalau sudah menjadi kenyataan, apa yang dapat kita perbuat? Jawabnya, kembali belajar dan meneliti ayat-ayat kauniyah dan syar'iyah yang telah Allah turunkan kepada kita, sebagai petunjuk untuk mengenalNya. Sehingga kita dapat mengenal kebesaranNya.
Allah berfirman yang artinya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. al-Baqaroh 2 : 164)
demikian juga firmanNya:
Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shood 38 : 29)
dan firmanNya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS An – Nisaa' : 82)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.Dan langit, bagaimana ia ditinggikan .Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan.Dan bumi bagaimana ia dihamparkan (QS. al-Ghosiyah 88 : 17-20)
Allah berfirman yang artinya :
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang .Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (QS. al-Mulk 67 : 3-4)
Katakanlah:"Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". (QS. al-An'am 6 : 11)
Dan firmanNya :
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. al-An'am 6 : 6)

Cara Mengenal Allah Ta'ala.
Mengenal sesuatu hanya dapat dilakukan dengan tiga cara:
1. Melihat langsung dzatnya, ini tidak mungkin dapat dilakukan terhadap Allah, karena Dia tidak dapat dilihat didunia ini, sebagaimana firmanNya:
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. 6:103)
2. Melihat dzat yang sejenis atau serupa dengannya, sebagaimana mengenal gajah yang dihutan, dengan melihat gajah yang dikebun binatang. Inipun tidak mungkin dilakukan pada Allah, karena tidak ada yang serupa denganNya, sebagaiman firmanNya:
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 42:11)
3. Mengenal dengan melihat dan mendengar beritanya dari sumber yang terpercaya dan absolut. Inilah satu-satunya cara mengenal Allah, karena dua cara diatas tidak mungkin dilakukan, maka dengan cara ketiga inilah kita dapat mengenal Allah dengan benar dan valid.

Mengenal Allah yang benar hanya dapat dilakukan dengan melihat kembali pada khabar (berita) yang Allah sampaikan tentang diriNya baik dalam Al-Qur'an atau As-Sunnah. Kalau kita melihat kepada dua sumber kebenaran yang absolut ini, didapatkan keduanya berbicara tentang tiga hal, yaitu:
1. Allah itu ada.
2. Allah sebagai Robb yang memiliki nama dan sifat yang sempurna.
3. Allah sebagai Ilah (sesembahan) yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia.

Perlu kiranya kita paparkan dengan singkat tiga hal diatas, agar kita semua dapat beriman kepada Allah dengan benar.

1. Allah itu ada.
Keberadaan Allah merupakan perkara yang sudah tidak dapat dipungkiri siapapun yang berakal, karena telah ditunjukkan secara tegas oleh akal, indera, fithroh dan syari'at.
Dalil Akal:
Keteraturan alam semesta yang kita lihat ini, benda dan makhluk yang ada didalamnya tidak pernah mengalami benturan dan berjatuhan, matahari dan bulan tidak pernah bertabrakan, malam dan siang tidak pernah terbalik, bahkan kita lihat semuanya dapat berjalan sesuai dengan porosnya dan tempatnya, apakah mungkin mereka semua menciptakan diri mereka masing-masing tanpa ada yang menciptakannya? Ataukah mereka ada begitu saja tanpa pencipta? Tentu tidak mungkin, karena sesuatu yang tidak ada tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin ada dengan sendirinya, karena keteraturan alam ini menolaknya.
Imam Abu Hanifah pernah ditanya orang yang menolak adanya Allah, mereka bertanya: "Buktikanlah kepada kami, Allah itu ada?" beliau menjawab:"Tunggu sebentar!" lalu beliau berkata kepada mereka: "Saya berfikir tentang sebuah kapal laut bermuatan barang yang banyak yang berlabuh didermaga, lalu semua muatannya turun tanpa ada yang menurunkan. Kemudian kapal tersebut berlayar kembali tanpa nahkoda". Mereka bertanya: "mengapa kamu berfikir demikian, kan hal itu tidak masuk akal dan kami tidak akan mempercayainya?". Lalu beliau jawab: "kalau kalian tidak mempercayainya, bagaimana kalian percaya matahari, bulan, bintang, langit dan bumi ada tanpa pencipta?".
Demikianlah, hal ini diisyaratkan Allah dalam firmanNya:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) (QS. 52:35)
Dalil Indera:
Kita melihat dalam do'a, misalnya seorang berdo'a kepada Allah, berkata: "Ya, Allah, berilah kami rizqi". Lalu dikabulkan permintaannya. Kalau begitu tentunya ada dzat yang mendengar do'anya dan mengabulkan permintaannya. Alangkah banyaknya kisah dikabulkan do'a para nabi dalam Al-Qur'an, seperti:
Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika ia berdo'a, dan Kami memperkenankan do'anya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. (QS. 21:76)
Dalil Fithroh:
Seorang secara tabiat, kalau ditimpa satu musibah akan ingat kepada Allah dan mengatakan: "Ya Allah". Sampai-sampai kita dengar dari kaum kafir yang tidak mengakui adanya Allah, ketika mendapatkan musibah mengatakan hal tersebut, tanpa dia sadari, karena fitrohnya telah menunjukkan adanya Allah sebagaimana Allah sampaikan dalam firmanNya:
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):"Bukankah Aku ini Rabbmu". Mereka menjawab:"Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)". (QS. 7:172)
Dalil Syar'i:
Ini sangat banyak, bahkan semua syari'at, jika diteliti, menunjukkan adanya Allah, karena siapakah yang menurunkan syari'at? Allah berfirman:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur'an? Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. 4:82)
Demikian juga adanya para rasul dan agama yang bersesuaian dengan kemaslahatan umat manusia menunjukkan adanya Allah, karena tidak mungkin ada agama dan rasul kecuali ada yang mengutusnya. Akan tetapi agama-agama yang ada selain Islam telah mengalami penyimpangan dan perubahan sehingga mereka menyimpang dari jalan yang lurus.

2. Allah sebagai Robb yang memiliki nama dan sifat yang sempurna.
Setelah kita mengenal dan mengimani keberadaan Allah sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka perlu kita kenali Allah sebagai robb yang telah menciptakan, memiliki dan mengatur semua makhluknya. Serta Allah memiliki nama – nama yang Maha Indah dan sifat – sifat yang Maha Sempurna, sebagaimana yang telah Allah tetapkan sendiri bagi diri Nya di dalam Al Qur'an dan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasul Nya yang mulia shallallaahu 'alaihi wa sallam di dalam Al Hadits yang shohih tanpa kita ta'thil (menolaknya), tahrif (menyelewengkan maknanya), tamtsil (menyerupakan dengan makhluq), dan takyif (menanyakan / membayangkan hakikatnya).
Dialah satu-satunya pencipta yang mengadakan sesuatu dari ketidak adaan, Allah berfirman yang artinya :
Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya:"Jadilah". Lalu jadilah ia. (QS. 2:117)
Dialah satu-satunya pemilik sebagaimana Dia adalah satu-satunya pencipta, demikian juga Dia pengatur satu-satunya yang mengatur segala sesuatu. Semua ini diakui oleh kaum musyrikin Mekkah, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (QS. 10:31)
Firman Allah:
Katakanlah:"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui" Mereka akan menjawab:"Kepunyaan Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak ingat?" Katakanlah:"Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab:"kepunyaan Allah". Katakanlah:"Maka apakah kamu tidak bertaqwa?" Katakanlah:"Sipakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab:"Kepunyaan Allah". Katakanlah:"(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (QS. 23:84-89)
Firman Allah:
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka:"Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab:"Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah), (QS. 43:87)
Ini semua menunjukkan imannya kaum musyrikin terhadap rububiyah Allah, akan tetapi hal ini tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Memang demikianlah, sebab mereka belum merealisasikan iman mereka terhadap Allah sebagai satu-satunya sesembahan.

3. Allah sebagai Ilah (sesembahan) yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia
Hanya Allah lah satu-satunya sesembahan, yang tiada sekutu bagi-Nya. Ilah memiliki makna ma'luh, yang sinonim dengan ma'bud (yang disembah) karena kecintaan dan pengagungan. Firman Allah yang artinya :
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS Al Baqarah : 163)
Maka setiap / segala sesuatu yang disembah selain Allah adalah bathil (tidak berhaq), sebagaimana firman-Nya :
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Dia lah (sesembahan) yang haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al Hajj : 62)
Meskipun sesembahan – sesembahan tersebut dituhankan, tetapi secara hakiki tidaklah sedikitpun memiliki sifat uluhiyah, Allah berfirman tentang keberadaan Latta, 'Uzza, dan Manat:
Itu tidak lain hanyalah nama – nama yang kamu dan nenek moyang kamu ada – adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. (An Najm : 23)
Firman Allah tentang perkataan Nabi Yusuf kepada kedua temannya di penjara :
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan – tuhan yang bermacam – macam itu, ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa ?. Kamu tidaklah menyembah kepada selain Allah, melainkan hanyalah (menyembah) nama – nama yang kamu dan nenek moyang kamu membuat – buatnya. Allah tidak menurunkan satu keterangan pun tentang nama – nama itu. (QS Yusuf : 39 – 40)
Inilah hakikat dari pernyataan Laa ilaaha illallaah, tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali hanya Allah. Dan barang siapa yang memalingkan penyembahan / ibadahnya kepada selain Allah (apapun bentuknya), maka dia telah ingkar terhadap pernyataannya tersebut.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla memberikan kemudahan bagi kita semua untuk menjadi seorang yang mengenal Nya dengan baik, yaitu mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah sebagaimana salafush shalih (pendahulu kita yang sholih) telah melakukan hal yang mulia ini. Wallahu a'lam.
 

Panji Rasulullah Copyright © 2008-2009 | Edited By : Copyright Tanpa Nama