Tampilkan postingan dengan label Hati dan niat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati dan niat. Tampilkan semua postingan

Niyat yang Ikhlas

Pemacu utama yang akan memastikan anda sampai ke makam hakikat dengan selamat adalah niat anda yang tulus lagi murni untuk mengenal kebenaran Al-Haq.

Apakah isyarat niat yang ikhlas itu pada diri anda? Ia adalah suatu rasa yang lahir dari lubuk hati anda yang sering mendesak anda supaya mencari jalan yang boleh menenangkan perasaan anda. Rasa yang penuh rahsia ini yang tersembunyi di dalam qalbu anda inilah seruan dari Allah Ta'ala agar anda mencari jalan pulang kepada Zat Nya.

Cuba perhatikan rasa rahsia ini di dalam dada anda. Rasa di dalam dada ini akan terus bergelora selagi anda tidak menemukan jalan pulang ke Rahmatullah sewaktu anda masih hidup di dunia yang fana ini. Jadikanlah rasa rahsia ini sebagai niat ikhlas anda.

Pastikan anda tidak memulakan perjalanan ini semata-mata kerana mengejar karramah atau kelebihan-kelebihan yang bersifat duniawi. Ini adalah niat yang terhasil dari bisikan-bisikan syaitan di dalam jiwa insan. Jika anda berbuat demikian, maka inilah yang dinamakan sifat munafiq. Dan Allah Ta'ala mengetahui isi hati kamu.

Niat yang ikhlas akan menyampaikan anda kepada tujuan destinasi hati anda. Rasulullah SAW telah mengesahkan pernyataan ini apabila dia berkata bahawasanya setiap amalan itu ditimbang pada niat ataupun maksud tujuannya dan hasil dari amalan itu akan berkadaran dengan niat itu. Inilah Sunnatullah yang bersabitan dengan niat dan amalan insan.

Didalam niat yang ikhlas, jangan ada perasaan bimbang atau takut terhadap apa pun. Jika hati anda ingin menuju kepada Zat Allah, mana mungkin Dia menyesatkan anda kerana Dia telah berjanji di dalam Al-Quran bahawasanya Dia akan menunjukkan jalan kepada insan-insan yang ingin kembali kepadaNya.

Ketahuilah, tiada yang lebih dicintai Allah Ta'ala dari hati yang ingin kembali kepadaNya didalam keadaan menyerah jiwa dan raga dan semata-mata mengharapkan pembebasan dari ilusi hidup nafsu ammarah yang fana ini. Ikhlas yang hakikat ialah menetapkan ke ESA an Zat Allah Ta'ala dan bahawasanya sekalian sifat, nama/asmak dan perbuatan adalah milik Nya semata-mata. Inilah makam ikhlas, makam fana fillah dan baqa billah sekaligus.

Dalil-dalilnya (sebahagian sahaja kerana ada banyak di dalam Al Quran) berikut menunjukkan ketunggalan Allah Ta'ala di dalam sekalian perbuatan zohir dan batin:

1. Dan tiadalah kamu yang berkehendak, melainkan kehendak Allah.
2. Bukan kamu yang melontar, tapi Allah yang melontar.
3. Allah yang menjadikan kamu, kemudian Dia memberi kamu rezeki, kemudian Dia mematikan kamu, dan kemudian Dia menghidupkan kamu semula.
4. Sesungguhnya sekalian yang ada adalah milikNya dan sekaliannya itu akan kembali kepada Nya.
5. Aku tidak meminta kamu rezeki, malahan Aku yang memberi kamu rezeki.

Berdoalah kepada Nya agar anda diberi hati yang bersih dari hati yang munafiq. Amin. Semoga kita semua diberkati dan dirahmati Allah Ta'ala didalam ikhtiar kita mengenalNya dan seterusnya hidup didalam makrifatullah.

Lihatlah Hatimu

Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).

Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!

Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang sehat.

1. Hati yang Sehat

Yaitu hati yang selamat, hati yang bertauhid (mengesakan Alloh dalam setiap peribadatannya), di mana seseorang tidak akan selamat di hari akhirat nanti kecuali ia datang dengan membawa hati ini. Alloh berfirman dalam surat as-Syu’ara ayat 88-89:


“(Yaitu) hari di mana tidak berguna lagi harta dan anak-anak kecuali mereka yang datang menemui Alloh dengan hati yang selamat (selamat dari kesyirikan dan kotoran-kotorannya).” (QS. Asy Syu’ara: 88,89)

Hati yang sehat ini didefinisikan dengan hati yang terbebas dari setiap syahwat, selamat dari setiap keinginan yang bertentangan dari perintah Alloh, selamat dari setiap syubhat (kerancuan-kerancuan dalam pemikiran), selamat dari menyimpang pada kebenaran. Hati ini selamat dari beribadah kepada selain Alloh dan berhukum kepada hukum selain hukum Rosul-Nya. Hati ini mengikhlaskan peribadatannya hanya kepada Alloh dalam keinginannya, dalam tawakalnya, dalam pengharapannya dalam kecintaannya Jika ia mencintai ia mencintai karena Alloh, jika ia membenci ia membenci karena Alloh, jika ia memberi ia memberi karena Alloh, jika ia menolak ia menolak karena Alloh. Hati ini terbebas dari berhukum kepada hukum selain Alloh dan Rosul-Nya. Hati ini telah terikat kepada suatu ikatan yang kuat, yakni syariat agama yang Alloh turunkan. Sehingga hati ini menjadikan syariat sebagai panutan dalam setiap perkataan dan perbuatannya.

Alloh berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bersikap mendahului Alloh dan Rosul-Nya, bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurot: 1)

Pemilik hati yang sehat ini akan senantiasa dekat dengan Al Quran, ia senantiasa berinteraksi dengan Al Quran, ia senantiasa tenang, permasalahan apapun yang dihadapinya akan dihadapi dengan tegar, ia senantiasa bertawakal kepada-Nya karena ia mengetahui semua hal berasal dari Alloh dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Di manapun ia berada zikir kepada Alloh senantiasa terucap dari lisannya, jika disebut nama Alloh bergetarlah hatinya, jika dibacakan ayat-ayatNya maka bertambahlah imannya. Pemilik hati inilah seorang mukmin sejati, orang yang Alloh puji dalam Firman-Nya:


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (sempurna imannya) ialah mereka yang bila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allohlah mereka bertawakkal (berserah diri).” (QS. Al-Anfaal: 2)

2. Hati yang Mati

Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robbnya, ia tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, ia tidak menghadirkan setiap perbuatannya berdasarkan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya. Hati ini senantiasa berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan dunia walaupun di dalamnya ada murka Alloh, akan tetapi hati ini tidak memperdulikan hal-hal tersebut, baginya yang terpenting adalah bagaimana ia bisa melimpahkan hawa nafsunya. Ia menghamba kepada selain Alloh, jika ia mencinta maka mencinta karena hawa nafsu, jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsu.

Alloh berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah: 23)

Pemilik hati ini jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran maka dirinya tidak tergetar, ia senantiasa ingin menjauh dari Al Quran, ia lebih senang mendengar suara-suara yang membuatnya lalai, ia lebih senang mendengar nyanyian, mendengar musik, mendengar suara-suara yang menggejolakkan hawa nafsunya. Pemilik hati ini senantiasa gelisah, ia tidak tahu harus kepada siapa ia menyandarkan dirinya, ia tidak tahu kepada siapa ia berharap, ia tidak tahu kepada siapa ia meminta, kehidupannya terombang-ambing, ke mana saja angin bertiup ia akan mengikutinya, ke mana saja syahwat mengajaknya ia akan mengikutinya, wahai betapa menderitanya pemilik hati ini!

3. Hati yang Sakit

Hati ini adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit. Hati ini akan mengikuti unsur kuat yang mempengaruhinya, terkadang hati ini cenderung kepada “kehidupan” dan terkadang cenderung kepada “penyakit”. Pada hati ini ada kecintaan kepada Alloh, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya. Akan tetapi pada hati ini juga terdapat kecintaan kepada syahwat, ketamakan, hawa nafsu, dengki, kesombongan dan sikap bangga diri.

Ia ada di antara dua penyeru, penyeru kepada Alloh, Rosul dan hari akhir dan penyeru kepada kehidupan duniawi. Seruan yang akan disambutnya adalah seruan yang paling dekat dan paling akrab kepadanya.

Pemilik hati ini akan senantiasa berubah-ubah, terkadang ia berada dalam ketaatan dan kebaikan, terkadang ia berada dalam maksiat dan dosa. Amalannya senantiasa berubah sesuai dengan lingkungannya, jika lingkungannya baik maka ia berubah menjadi baik adapun jika lingkungannya buruk maka ia akan terseret pula kepada keburukan.

Demikianlah, hati yang pertama adalah hati yang hidup, khusyu’, tawadhu’, lembut dan selalu berjaga. Hati yang kedua adalah hati yang gersang dan mati. Hati yang ketiga adalah hati yang sakit, kadang-kadang dekat kepada keselamatan dan kadang-kadang dekat kepada kebinasaan.

Maka wahai kaum muslimin! hendaknya kita menginterospeksi diri kita sendiri, termasuk dalam golongan yang manakah hati kita? apakah hati kita termasuk dalam hati yang sehat, hati yang sakit atau malah hati kita telah mati? Maka renungkanlah Firman Alloh dalam surat Al-Kahfi ayat 49:


“Dan diletakkanlah kitab (kitab amalan perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan hadir (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS. Al Kahfy: 49)

Dan sebaliknya Firman-Nya dalam Surat Al-Kahfi ayat 29-30:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al Kahfy: 29,30)

Wahai zat yang membolak-bolakkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agamamu, wahai zat yang membolak-balikkan hati tuntunlah hati kami teguh di atas ketaatan kepada-Mu…

Hati dan Niat

Ketahui olehmu bahawa hati itu terbahagi pada 2 bahagian:

1. Dinamakan hati sanubari
2. Dinamakan hati nurani

Adapun Hati Sanubari itu hal keadaannya zulmah ertinya gelap tiada menerima sinaran Nur atau cahaya ma'rifat, oleh kerana hati sanubari itu tempat dinaungi oleh Syaitan ditakluk dengan nafsu amarah yang sekeji-keji dan seburuk-buruk nafsu. Ianya termasuk di dalam satu dari anggota tubuh badan yang kasar ini yang terletak di sebelah kiri di dalam dada. Hati Sanubari adalah segumpal daging yang berbentuk bulat mamanjang dan mempunyai tugas-tugas tertentu yang didalamnya berongga dan ada terkandung darah hitam.

Hati inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW :

'Inni fi jasadabni adama mudghatan, fa'iza salakhat, jasadu kulluhu. Wa iza fasadat, fasadal jasadu kulluhu, ala wahiyal qalbu.'

Sesunggunya didalam tubuh anak Adam ada segumpal daging, maka apabila baik daging itu baiklah seluruh anggota badannya, dan manakala rosak daging itu binasalah seluruh tubuh badannya, ialah hati sanubari dan hati sanubari ini tidak lain melainkan jantung. Maka adalah jantung ini sesuatu yang amat penting bagi kehidupan tubuh badan. Ianya diperolehi pada manusia dan haiwan. Adapun kejadiannya dicipta dari alam nyata atau disebut alam syahadah.

2. Adapun hati yang kedua dinamakan Hati Nurani. Hati inilah yang dapat menerima sinaran nur ma'rifat dari Tuhan, bahkan ialah yang menerima tajalli Tuhan, menanggung amanah dan rahsia Tuhannya, berpakaian dengan tujuh Sifat Maani. Ianya merupakan Hakikat Insan dan bersifat Ketuhanan. Hati Nurani ini bukanlah kejadian yang dijadikan dari alam nyata, bahkan dicipta ia dari unsur unsur alam ghaib. Oleh kerana itu Hati Nurani ini tiada boleh dilihat dengan mata kasar. Maka hati inilah yang di tuntut hadir dalam sembahyang, menghadap Tuhannya, memuji dan bermohon kepada Tuhan. Hati Nurani inilah yang disebut Ruh Latifurabbaniyah atau Hakikat Insan atau juga disebut diri sebenar diri. Oleh kerana ianya merupakan hakikat insan maka dinamakan pula dengan sebutan Insan Hakiki. Dialah semulia mulia dan setinggi tinggi kejadian dan sebaik baik makhluk sebagaimana Firman Allah: "Laqad khalaknal insana akhsani taqwim" Demi sebaik baik kejadian yang Kami jadikan ialah Insan.

Insan hakiki inilah yang di isyarat oleh Allah dengan firmanNya didalam Hadith Qudsi:

"Al Insanu Sirri Wa ANA sirruhu" Adalah Insan itu rahsiaKu dan Aku rahsianya.

Demikian dengan terang dan tegas sekali dinyatakan oleh Allah. Dengan itu jua bererti ianya menjadi dalil yang nyata bagi wujud Allah, suatu dalil yang paling hampir kepada Allah, dengan dialah dijadikan sebagai jalan yang paling dekat untuk mencapai ma'rifat kepada Allah sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi SAW dengan sabdanya yang begitu jelas dan tegas:
"Man arafa nafsahu, fakad arafa rabbahu"
Barang siapa mengenal akan dirinya dengan sebenar-benar pengenalan, maka telah kenal ia akan Tuhannya.

Didalam Hadith Qudsi pula Allah berfirman:
"Man talaballahu bighairi nafsihi fakad dalla dalalan ba'idan".
Barang siapa menuntut ma'rifat akan Allah dengan barang yang lain dari dirinya sendiri maka telah sesat ia dengan kesesatan yang amat jauh.

FirmanNya lagi dalam Hadith Qudsi:

"Man wasafallahu bisyai in min khalqihi fajad kafar, waman angkara ma wasafallahu bihi binafsidi fakad kafar."

Barang siapa mensifatkan Allah dengan sesuatu daripada barang yang dijadikan Allah, maka telah kafirlah ia dan barang siapa yang ingkar pada yang telah disifatkan Allah dengannya dengan Zatnya maka telah kufurlah ia.

Ketahui olehmu adalah Hati Nurani atau alam Ruh Latifurr Rabbaniah itu alam latif dan tiada padanya rupa dan warna yang dapat dilihat dengan mata kasar. Tuhan telah menjadikannya terdahulu dari kejadian jasad dua ribu tahun lamanya.

Adapun pada istilah Tahqiq bahawa adalah Ruh itu beberapa namanya iaitu :-

1. Ruhul Quddus
2. Ruh Idhafi
3. Ruhani
4. Ruhul Hayat
5. Ruhul Amar
6. Ruh Jamadi
7. Ruh Nabati
8. Ruh Haiwani
9. Ruh Insani
10. Ruh Kamalat
11. Ruhul Ajsad

Adapun yang bernama Ruh Nabati ialah tatkala darah yang setitik maka pada Alam Kabir iaitu segala tumbuh-tumbuhan.

Ruh Jamadi itu tatkala daging yang seketul atau segumpal. Maka pada Alam Kabir ialah segala batu-batu dan kayu-kayan.

Ruhani iaitu tatkala sudah dimasukkan nyawa padanya.

Ruh Haiwani iaitu tatkala berhajat kepada makan dan minum dan jimak, maka pada Alam Kabir ialah segala binatang.

Ruh Insan iaitu tatkala sudah zahir dari perut ibu.

Ruh Kamalat iaitu tatkala bersuara menangis pada pertama pertama jadi.

Maka adalah perbezaan roh dan nafas itu adalah roh itu batin dan nafas itu zahir. Maka nafas itu adalah roh atau kenyataannya yang juga disebut kelakuan atau sifatnya.
Yang demikian tertib Allah SWT yang amat halus pekerjaanNya lagi bijaksana, dengan IradatNya menggerakkan Ruhul Amar dan Ruhul Amar menggerakkan Ruhul Hayat dan Ruhul Hayat menggerakkan Nafas dan Nafas pula menggerakkan Jasad. Maka zahirlah kelakuannya pada Jasad.

MENGENAI ROH
Roh diumpamakan sebagai tubuh. Keupayaan yang menghidupkan roh dipanggil nyawa. Apabila ia hidup ia mempunyai keupayaan untuk melahirkan berbagai-bagai bakat. Keupayaan yang melahirkan kehendak dinamakan nafsu. Keupayaan untuk melahirkan pengetahuan dinamakan akal. Roh yang satu boleh dilihat melalui empat aspek.
Aspek roh yang melahirkan bakat-bakat seperti mendengar, melihat dan lain-lain dinamakan roh juga.
Aspek roh yang melahirkan kehendak dinamakan nafsu. Aspek roh yang melahirkan pengetahuan dinamakan akal. Aspek roh yang melahirkan kehidupan dinamakan nyawa.

Tuhan mengajar manusia mengenali-Nya melalui sifat atau nilai yang ada dengan manusia sendiri walaupun sifat manusia bukan nya sifat Tuhan. Dalam persoalan roh, aspek roh yang menghasilkan bakat-bakat dikaitkan dengan sifat Kudrat.

Nafsu pula dikaitkan dengan sifat Iradat.
Akal dikaitkan dengan sifat Ilmu.
Nyawa dikaitkan dengan sifat Hayat.

Kudrat Allah s.w.t yang memberikan keupayaan kepada roh. Roh berperanan membekalkan bakat-bakat, keupayaan serta tenaga. Kebolehan mendengar, melihat, berkata-kata, bergerak dan lain-lain adalah merupakan pekerjaan roh. Roh mempastikan setiap bakat itu pergi kepada alat atau pancaindera yang sesuai dengannya. Roh menghantarkan bakat melihat kepada mata, mendengar kepada telinga, berkata-kata kepada lidah dan bakat-bakat lain dihantar kepada pancaindera yang sesuai untuk masing-masingnya. Roh dikaitkan dengan urusan Allah s.w.t. Sebab itu pekerjaan roh adalah tepat dan sempurna. Roh tidak membuat silap, seperti meletakkan bakat melihat kepada kaki atau bakat mendengar kepada lutut. Dalam syariat roh diistilahkan sebagai malaikat. Malaikat yang menjaga matahari, bulan, bintang dan planet-planet lainnya akan mengheret masing-masing itu pada falak yang telah ditentukan oleh Tuhan dan maklumatnya telah dibekalkan kepada malaikat atau roh masing-masing. Malaikat menjalankan perintah Tuhan dengan tepat, tanpa kegoncangan yang datang daripada nafsu dan akal.

Roh atau malaikat secara semulajadinya mempunyai sifat hanya mentaati perintah Allah s.w.t tanpa berfikir atau memilih. Malaikat angin yang diperintahkan Allah s.w.t supaya membinasakan sesebuah negeri akan berbuat demikian tanpa kasihan belas walaupun anak dipisahkan daripada ibu bapa, isteri dipisahkan daripada suami dan banyak nyawa terkorban serta harta benda yang rosak.

Malaikat atau roh yang menghantar bakat melihat kepada mata akan terus berbuat demikian walaupun mata itu digunakan untuk melihat sesuatu yang dimurkai Allah s.w.t, melainkan jika Allah s.w.t memerintahkannya memberhentikan penghantaran bakat tersebut. Jadi, roh pada aspek bakat-bakat adalah serupa dengan malaikat yang menjalankan tugas tanpa rangsangan nafsu dan pertimbangan akal.
 

Panji Rasulullah Copyright © 2008-2009 | Edited By : Copyright Tanpa Nama